bUS00HWDZt79zfQ1wwxxb0EHX4Qi1Vsw4iZheUJe

Pengertian Wadi'ah dan Landasan Syariahnya | Ekonomi Syari'ah

ilustrasi akad wadi'ah (sumber: pensilkita.com)

Pengertian Wadi'ah atau Al-Wadi'ah

Dalam prinsip atau ilmu fiqh Islam, prinsip titipan atau simpanan dikenal sebagai prinsip al-wadi'ah atau wadiah. Al-wadi'ah bisa diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, atau individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki.

Landasan Syari'ah

Dalam islam landasan pertama yang digunakan adalah Al-Qur'an, begitu juga dengan ekonomi islam atau biasa disebut ekonomi syari'ah. Berikut beberapa landasan wadi'ah dalam Al-qur'an :

"sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat (titipan), kepada yang berhak menerimanya......." (An-Nisaa':58) 

"....jika sebagian kamu mempercayai sebagian  yang lain, hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya...." (Al-Baqarah: 283)

Al- Hadist

"Dari Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "sampaikanlah (tunaikanlah) amanat kepada yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada yang telah mengkhianatimu". (HR. Abu Dawud dan menurut Tirmidzi hadits ini hasan, sedangkan Imam Hakim mengkategorikannya Shahih)

Ibnu Umar berkata bahwasanya Rasulullah telah bersabda : "tiada kesempurnaan iman bagi setiap orang yang tidak beramanah, tiada sholat bagi yang tidak bersuci". (HR.Tirmidzi)

Penjelasan

pada dasarnya penerima simpanan adalah yad al-amanah (tangan amanah), artinya ia tidak bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada barang titipan selama itu terjadi bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan (karena faktor di luar batas kemampuan). Hal ini telah dikemukakan oleh Rasulullah dalam suatu hadits:

"jaminan pertanggungjawaban tidak diminta dari peminjam yang tidak menyalahgunakan (pinjaman) dan penerima titipan yang tidak lalai terhadap titipan tersebut".  dikutip dari Jihad Abdullah Husain Abu Uwainir, at-Tarsyid Asysyari lil-Bunuk al-Qaimah (Kairo: Al-ittihad ad-Dauli lil Bunuk al islamiah, 1986)

Akan tetapi, dalam aktivitas perekonomian modern, si penerima simpanan tidak mungkin meng-idle-kan aset tersebut, namun menggunakannya dalam aktivitas perekonomian tertentu. Oleh karena itu si penerima titipan harus meminta izin kepada yang memberikan titipan untuk dipergunakan dalam aktivitas perekonomian tertentu dengan catatan akan dikembalikan seutuhnya. Dengan demikian konsep penerima tadi bukan lagi yad al-amanah, tetapi yad adh-dhamanah (tangan penanggung) yang bertanggung jawab atas segala kehilangan/kerusakan yang terjadi pada barang tersebut.

Skema al wadi'ah yad al-amanah

skema al-wadi'ah yad al-amanah (sumber : pensilkita.com)

Keteragan :

Dengan konsep al-wadi'ah yad al-amanah, pihak yang menerima tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan, tetapi harus benar-benar menjaga barang yang dititipkan.

Pihak penerima titipan dapat membebankan biaya penitipan kepada si penitip barang.

Baca juga :

1. 5 Cara Mudah Bangun Shubuh

2. 6 Cara Agar Kamu Percaya Diri

Aplikasi Perbankan

Mengacu pada pengertian yad adh-dhamanah, bank sebagai penerima simpanan dapat memanfaatkan ad-wadi'ah untuk tujuan: 

  1. current account (giro)
  2. saving account (tabungan berjangka)
Sebagai konsekuensi dari yad adh-dhamanah, semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank (demikian juga ia adalah penanggung seluruh kemungkinan kerugian). Sebgai imbalan, si penyimpan menfapat jaminan keamanan terhadap hartanya, demikian juga fasilitas-fasilitas giro lainnya.

Sungguh =pun demikian, bank sebagai penerima titipan, sekaligus juga pihak yang telah memanfaatkan dana tersebut, tidak dilarang untuk memberikan semacam intensif berupa bonus dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya dan jumlahnya tidak tetap dalam nominal atau persentase secara advance, tetapi benar-benar merupakan kebijaksanaan dari menajemen bank.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abu Rafie bahwa rasulullah saw. pernah meminta seseorang untuk meminjamkannya seekor unta. Diberinya unta kurban (berumur sekitar dua tahun). Setelah selang beberapa waktu, Rasulullah saw. memerintahkan Abu Rafie untuk mengembalikan unta tersebut ke pemiliknya, tetapi Abu Rafi kembali kepada Rasulullah saw. seraya berkata, "Ya Rasulullah unta yang sepadan tidak kami temukan; yang ada hanya unta yang lebih besar dan berumur empat tahun."

Rasulullah saw. berkata,"Berikanlah itu sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah yang terbaik ketika membayar." (HR. Muslim).

Dari semangat hadits di atas, jelaslah bahwa bonus sama sekali berbeda dari dari bunga, baik dalam prinsip maupun sumber pengambilan. Dalam praktiknya, nilai nominalnya mungkin akan lebih kecil, sama, atau lebih besar dari nilai suku bunga.

Dalam dunia perbankan modern yang penuh dengan kompetisi, intensif semacam ini dapat dijadikan sebagai banking policy dalam upaya merangsang semangat masyarakat dalam menabung, sekaligus sebagai indikator kesehatan bank terkait. Hal ini karena semakin besar keuntungan yang diberikan kepada penabung  dalam bentuk bonus, semakin efisien pula pemanfaatan dana tersebut dalam investasi yang roduktif dan menguntungkan.

Dewasa ini, banyak bank isla di luar negeri yang telah berhasil mengombinasikan prinsip al-wadi'ah dengan prinsip al-mudharabah. Dalam kombinasi ini, dewan direksi menentukan besarnya bonus dengan menetapkan persentase dari keuntungan yang dihasilkan oleh dana al-wadi'ah tersebut dalam satu periode tertentu.

Skema al-wadi'ah Yad adh-Dhamanah

skema al-wadi'ah yad adh-dhamanah (sumber: pensilkita.com)

Keterangan :

Dengan konsep al wadi'ah yad adh dhamanah, pihak yang menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan.

Tentunya, pihak bank dalam hal ini mendapatkan bagi hasil dari ganti penggunaan dana. Bank dapat memberikan intensif kepada penitip dalam bentuk bonus.


Sumber tulisan : Bank Syariah dari Teori Ke Praktik - Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec.




Raghib Sumahdi
petualang ilmu akhirat

Related Posts

Posting Komentar

Follow