bUS00HWDZt79zfQ1wwxxb0EHX4Qi1Vsw4iZheUJe

Hati Yang Rindu


"Sesungguhnya di dunia ini ada taman taman surga. Barang siapa tidak memasuki taman surga di dunia, maka dia tidak akan mendapatkan surga di akhirat" (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

Kalimat diatas menunjukkan dan menegaskan pada manusia kuhusnya umat muslim "jika ingin masuk surga adalah dengan cara mencari surga yang ada di bumi" hal ini juga diterangkan oleh Rasulullah dalam hadistnya yang menjelaskan taman surga di dunia.

Rasulullah bersabda :
“Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya,”Apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab,”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).” (Riwayat At-Tirmidzi)

Ternyata undangan spesial dari nabi kita adalah menghadiri majelis ilmu. Inilah undangan spesial dari nabi kita. Siapa saja yang memenuhi undangan ini juga akan mendapatkan hadiah istimewa langsung dari Allah, apa saja? Ini dia
Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda.
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya.” (Riwayat Muslim)
Bukan hanya itu,  Allah Subhanahu Wata’ala berikan langsung empat hal bagi tamu taman-taman surga ini yaitu Allah turunkan ketenangan dalam hati, Allah berikan rahmat bagi mereka, para malaikat Allah kumpulkan ditengah majelis itu, Allah sebutkan orang yang menjadi tamu taman surga itu dihadapan para malaikat-Nya.
Dari nikmat-nikmat ini masih banyak lagi keuntungan dari mereka mengahadiri taman surga di dunia salah satunya adalah mendapatkan warisan para nabi
Karena para nabi tidak mewariskan harta dinar maupun dirham, tetapi yang diwarikan mereka adalah ilmu” (HR. Ahmad)

Rindu, sebuah kata yang menggerakan, kata yang meledakkan, kata yang menginspirasi, kata yang menjadi energi orang beriman sehingga rela melakukan kebaikan tanpa paksaan karena kenikmatan yang dirasakan begitu tinggi nilainya. Kerinduan yang membuat orang betah berlama-lama di dalamnya serasa tak ingin dipisahkan. Itulah kerinduan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang benar-benar menikmatinya,  sebagai contohnya adalah kerinduan yang dirasakan oleh Hanzhalah, salah seorang sahabat Nabi yang memiliki kepekaan iman sehingga mampu merasakan kerinduan.


Sebagaimana dikisahkan Hanzhalah r.a Bersama Abu Bakar r.a. Suatu ketika Hanzhalah r.a menemui Abu Bakar r.a dengan berkata, “Abu Bakar, Aku melihat keadaanku sebagaimana keadaan orang munafik.” Abu Bakar Menjawab, Mengapa?” Hanzhalah berkata, “Bukankah ketika  Bersama Rasulullah, ruh kita menjadi lembut dan jiwa kita meningkat, tetapi jika kita meninggalkan beliau, keadaan menjadi berubah-ubah? “ Maka Abu Bakar Berkata, “Marilah kita dating kepada Rasulullah!”
Kisah lainnya dating dari Ibrahim At-Taimi beliau berkata, “Aku mengandaikan diriku dalam surga, aku makan dari buah-buahannya, aku dapat minum dari sungai, aku dapat merangkul bidadarinya. Lalu aku membayangkan diriku berada dalam neraka, aku makan dari buah zakumnya, aku minum dari nanahnya, dan aku diikat dengan berbelenggu dan rantainya, lalu aku katakan kepada diriku, “Wahai diriku, mana yang engkau pilih?’ Ia menjawab, ‘surga’ Lalu aku katakana, “sekarang engkau berada seperti yang engkau angan-angankan, maka perbanyaklah amal kebaikan.’

Dari kisah ini kita belajar betapa rindu adalah kata yang mudah sekali untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk dirasakan, hanya orang-orang yang benar-benar memiliki keimanan yang kuatlah yang mampu merasakannya.

Yang menjadi pertanyaan adalah pernahkah kita merasakan rasa rindu itu, terlalu sering kita mengucap rindu tapi tak merasakannya. Apakah itu bisa dikatakan rindu, rindu erat kaitannya dengan hati karena hati berkaitan dengan rasa  dan rasa tak akan bisa untuk dibohongi.

Pernahkah kita rindu akan sebuah majelis ilmu?
Pernahkah kita merindukan Rasulullah ?
Pernahkah kita rindu untuk berkumpul dengan oran-orang beriman?

Instropeksi diri menjadi hal dasar yang harus dilakukan terhadap pertanyaan tentang kerinduan dan iman kepada Sang Pencipta. Iman sulit untuk stabil karenanya mintalah kepada Allah untuk selalu merefresh iman kita agar selalu senantiasa rindu akan kebaikan dan berbauat baik sebagaimana sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya iman seorang di antara kalian akan kusut di dalam batinnya sebagaimana kusutnya pakaian, maka mohonlah kepada Allah agar dia mau memperbaharui iman di dalam hati kalian” (HR. Thabrani dan Hakim)

dari doa ini semoga kita menjadi pribadi yang lembut hati, baik akhlaknya, dan semakin takwa kepada Allah dan menjadi orang yang selalu merindukan taman-taman surga. Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah :

“Apabila kamu melewati taman-taman surga, berlabuhlah disana. “Ada sahabat bertanya, “Apakah taman surga itu?” Beliu Menjawab, “Majelis-Majelis Ilmu.” (HR. Thbarani)

Sampai jumpa ditulisan selanjutnya………

Raghib Sumahdi
petualang ilmu akhirat

Related Posts

Posting Komentar